Coretan

Optimis Atas Kesedihan

“Tiada seorang pun yang terbebas dari jeratan kesedihan itu, pun tak ada seorang pun yang terbebas dari sebab-sebab kesedihan itu”

Ibnu Sina

Berebut kebahagian, lari dari kesedihan, itulah ciri umum jiwa manusia. Sedih dan bahagia dipergilirkan. Bisa jadi hari ini bahagia, esok hadir duka. Begitu pun sebaliknya. Sekarang berduka, esok hari bisa jadi bahagia. Sesungguhnya Tuhan tidak menghadirkan kebahagiaan dan kesedihan, melainkan sebagai pengingat bahwa manusia tidak akan luput dari rangkaian perjalanan kehidupan dan mendapati kesedihan sebagai hal mutlak.

Kira-kira begitulah seorang Ibnu sina ingin berbincang dengan kita tentang kesedihan. Kesedihan yang tak satu orang pun bisa luput darinya. Lalu mengapa kita mendapati diri yang selalu ingin bahagia, bahagia dan bahagia. Hingga datang satu masa di mana kesedihan menghampiri dan tak jarang pikiran manusia langsung menganggap itu sebagai kesalahan. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, menganggap kesedihan sebagai hukuman. Padahal di balik keindahan kepahaman sejati yang dalam, sebenarnya kesedihan serupa seorang ibu yang membimbing (nurturing mother) jiwa agar kembali pulang.

“Dan Kami coba mereka dengan kebaikan-kebaikan (kebahagiaan) dan dengan kejelekan-kejelekan (kesedihan), agar mereka kembali.” (QS. Al-A’rof: 168)

Di dunia sastra, ada teladan indah yang menempatkan kesedihan sebagai sebuah optimisme. Dia menyelami  kesedihan dan menjadikannya begitu bermakna. Seolah menjadi sahabat, tidak saja menguak kebahagian, kesedihan malah menjadi sebuah kerinduan. Kita semua pasti akrab dengannya. Ya, Kahlil Gibran. Salah satu orang yang menyelam dalam sekaligus indah di danau kesedihan.

Belajar darinya, bila manusia biasa lari menjauh atau mengalami luka jiwa menganga tatkala cintanya ditolak, atau meraung menangis saat mendapati kekasihnya bersama orang lain, penulis buku Sang Nabi ini menyelami selapis demi selapis indahnya danau kesedihan. Ia sapa setiap tetesan air mata. Ia dekap setiap rasa sakit. Ia perciki optimisme setiap luka jiwa. Hasilnya sangat mengagumkan, sebuah karya indah yang dikagumi dunia.

Salah satu kontemplasinya tertulis begini – cinta tumbuh bukan karena menemukan orang yang sempurna, melainkan kemampuan menerima kelemahan-kelemahan orang itu secara sempurna. Di bait lain dia berpesan – Ketika kita bercumbu dengan kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan menunggu di tempat tidur.

Dari sini, semoga terbit cakrawala pemahaman yang benderang, menghadirkan secercah pengertian jernih akan optimisme atas kesedihan. Dan pada akhirnya sampai pada muara keterbukaan melihat kesedihan bukan saja sebagai kutukan tetapi proses hidup yang harus diterima dan didudukan sejajar dengan kebahagiaan.

Seorang sahabat pernah bertanya, dia adalah adalah Sa’ad bin Abi Waqqash r.a, beginilah pertanyaanya: Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya? Maka Rasul bersabda, “(Orang yang paling berat ujiannya adalah) para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa.” (Riwayat Ibnu Majah)

Pernyataan lain dari seorang Leonardo da Vinci begini – “Kesedihan dan kebahagiaan adalah sepasang pelangi kehidupan sebagaimana layaknya aturan-Nya, bahwa segala segi kehidupan kita itu berpasang-pasangan. Ada siang ada malam. Ada dingin ada panas. Dan beratnya adalah, Air mata itu muncul dari hati, bukan dari pikiran”.

Dalam kalimat lain, kesedihan adalah suatu hal yang berada di luar kendali kita. Karena hati adalah suatu ‘God Spot’, titik hubungan kita denganNya, yang sepenuhnya dalam kuasa Nya. Bayangkan, “Tak ada hal yang membuat lebih stres ketimbang telah memiliki segala hal dalam hidup tapi masih saja bersedih hati”. Dan itu dialami oleh banyak orang.

Semisal orang yang hampir sempurna seperti David Beckham, mantan pesepakbola yang kaya, terkenal, tampan, memiliki isteri cantik, mustinya tak pernah merasakan kesedihan. Tapi, yakinlah, sesekali atau bahkan seringkali mereka pun bersedih hati.

Jelas, rangkaian ungkapan di atas memahamkan kita bahwa kesedihan bukanlah hukuman. Kesedihan bukanlah racun perjalanan. Kesedihan tidaklah diniatkan untuk melukai jiwa. Kesedihan adalah fitrah yang harus diterima dan nikmati. Karena sakit, sedih, sengsara adalah nilai yang posisinya sama dengan bahagia tergantung bagaimana seseorang menempatkannya.

Lanjut!

Sedih, ketika kita lihat dengan kaca-mata sufistik adalah sebuah keharusan, bahkan para sufi yang kelamaan dalam kebahagiaan mereka malah meminta untuk diberikan kesedihan. Karena mereka menganggap berlama-lama dalam kebahagiaan, tanpa tangisan dan ratapan membuat mereka lalai pada Sang Pencipta.

Oleh sebab itu mereka selalu mengharap dekat dengan Sang Pencipta dengan kesedihan. Akan tetapi, ada juga yang memanfaatkan kebahagiaan dan kemudahan itu laksana kendaraan. Gambarannya adalah mereka memiliki harta tapi tidak mereka genggam, atau mungkin mereka memiliki kebahagiaan dengan harta akan tetapi hanya sebagai kendaraan mereka menggapai ridha Sang Pencipta. Dengan kata lain, mereka diberi kebahagian dan kesedihan akan tetapi, mereka tidak pernah merasa memiliki keduanya.

Lalu bagaimana dengan kita, manusia biasa yang tak serupa dengan nabi, sufi dan kemuliaan lainnya? Akankah kita bisa melihat kesedihan sebagai optimisme?

Ibnu Sina kembali berucap:

“Lantas bagi orang yang ingin agar tidak didera kesedihan, hendaknya ia membayangkan objek cintanya yang duniawi dan kehendaknya yang sesaat itu sebagai sesuatu yang mestinya hilang dan senantiasa direngkuh oleh kerusakan. Maka jangan berharap kepada sesuatu yang tabiatnya tidak tetap, tidak kekal, dan tidak abadi. Akan tetapi hendaknya sesuatu yang mudah berganti, berpindah, dan lenyap itu tidak diposisikan sebagai keinginan yang sejati”. (Ibnu Sina)

Ibnu Sina ingin memahamkan bahwa layaknya sebagai manusia kita tahu siapa diri kita dan tahu bahwa apa saja yang ada di alam itu tidak kekal, dengan demikian manusia tak akan lagi mendambakan segala sesuatu secara berlebihan hingga hidup dalam ratapan kesedihan jika salah satu yang didambakannya lenyap.

Kita harus menyadari bahwa dunia materi tidaklah abadi, ia dapat hilang dengan tiba-tiba walaupun kita menjaga dengan hati-hati.  Dengan demikian jika manusia sudah tidak dikuasai oleh sifat kepemilikan abadi, maka kesedihan menghampirinya tak akan memusnahkan kemanusiaannya sebagai makhluk mulia. Bahkan mengarahkan kita pada upaya menuju tujuan-tujuan suci dan hanya mencari kebaikan-kebaikan kekal saja.

Refleksi lain datang dari Al-Kindi, seorang filosof awal Muslim, mengungkapkan tentang makna kesedihan yang menimpa pada kebanyakan manusia. Menurutnya, kesedihan yang ditimbulkan oleh manusia dan ditimpakan pada dirinya  bukanlah sesuatu yang alami.

Kata al-Kindi begini, “Orang yang bersedih hati karena kehilangan miliknya atau gagal memperoleh sesuatu yang dicarinya, kemudian merenungkan kesedihannya secara filosofis lalu dia mengerti bahwa penyebab kesedihannya itu bukanlah keharusan, lalu dia saksikan banyak orang yang tidak memiliki harta itu tapi mereka tidak merasakan sedih, bahkan gembira dan bahagia, maka dia tak akan luput dari pemahaman bahwa kesedihan bukanlah hal yang niscaya dan tidak alami.”

Ini berarti kesedihan merupakan sikap mental kita menghadapi kondisi lingkungan. Banyak orang yang dirundung kemiskinan tapi hatinya bahagia, sedangkan orang kaya hatinya belum tentu bahagia. Karena kekayaan materi belum tentu membahagiakan ruhani.

Sebagai makhluk yang memiliki akal, mari melihat kesedihan sebagai sebuah kewajaran. Menempatkan kesedihan sebagai dinamika hidup. Jikalau kesedihan datang bertandang, cobalah lebih tenang menyapanya, amati sebab-sebab yang melatarbelakanginya, mulailah berfikir musibah tertentu tidak hanya menimpa diri kita saja dan bahwa akhir dari musibahnya adalah kebahagiaan.

Sebagai penutup, setiap orang pasti pernah mengalami kesedihan pada saat tertentu dalam kehidupannya. Tidak seperti kebahagiaan, kesedihan tak pernah diharapkan bahkan diminta kedatangannya.

Maka kita sepakati, bukan hal yang tercela bila seseorang merasa sedih. Itu adalah fitrah, bagian dari kehidupan. Tak ada salahnya bila memang sewajarnya. Bahkan manusia pilihan seperti nabi pun pernah bersedih. Namun segeralah bangkit dan kembali berjuang tanpa memanjangkan kesedihan.

Catat, kesedihan bisa menjadi tercela saat seseorang larut dalam sedihnya. Hingga membuat hatinya lemah, tekadnya meredup, rasa optimisnya menghilang, dan menghancurkan harapan. Apalagi, sampai membuatnya tidak mau bergerak, tidak ada ikhtiar untuk mengubah keadaannya menjadi insan yang bahagia.

Sebuah kesalahan, jika kesedihan menjadikan kita lemah untuk meraih ridha Tuhan, apalagi membawa pada keputusasaan hingga membenci takdir-Nya. Tak perlu lama-lama memendam kesedihan dalam hati. Berdoa selalu agar kita kita senantiasa diberikan hati yang lapang, sabar yang tak terbatas dan ikhlas menerima.

Sesungguhnya, Allah melarang hamba-Nya larut dalam kesedihan. Firman-Nya,

“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS Ali Imran:139).

Sebagai mahkluk dengan segala keterbatasan, apa yang penulis uraikan adalah bagian dari refleksinya memaknai kesedihan, apakah dia sudah selesai dengan kesedihannya, tidak juga! Dia hanya sedang berdamai dengan kesedihan.

**

Leave a Reply

Your email address will not be published.